Meskipun tantangan yang disodorkan pemerintah telah menjadi kejadian rutin tiap tahun, namun tetap saja masih memberikan efek manakutkan bagi kalangan pendidik. Target kuantitatif dengan nilai yang terus meningkat memberikan dorongan sekaligus kekhawatiran bagi pendidik, orang tua dan siswa itu sendiri. Memang kekhawatiran akan nilai Ujian Nasional telah membawa kreatifitas tersendiri baik bagi sekolah, orangtua maupun siswa. Sekolah dengan tergopoh-gopoh memberikan pembelajaran tambahan untuk mereview materi ujian dari kelas pertama. Orang tua dengan sedikit terpaksa dan dipaksakan ramai-ramai mendaftarkan siswanya ke Bimbingan Belajar. Siswa dibuat sibuk dengan berbagai tambahan kegiatan yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan prestasi/kemampuan mencerap ilmu. Semua dibikin sibuk untuk persiapan kegiatan tahunan yang memakan dana trilunan rupiah, tak terkecuali para pengusaha bimbingan belajar yang sibuk menghitung banyaknya uang yang didapat.
Maka pendidikan yang seyogyanya memberikan rasa damai dan persaudaraan menjadi berubah berwajah pasar yang penuh dengan aroma tawar menawar dan kepentingan. Kesibukan ini mungkin akan menemukan momentum perubahan pada diri siswa manakala siswa mampu menangkap pesan ” Untuk memperoleh sesuatu harus ada kerja keras”. Namun bagi siswa yang memang memiliki daya juang “akademik” rendah, mereka akan pasrah saja ketika fonis ujian nasional menjatuhkan padanya dengan fonis “mengulang di tahun depan”. Mereka akan tetap menganggap enteng persoalan, toh mereka masih bisa “menjual Suara” dengan mengikuti berbagai ajang adu bakat, seperti yang terlihat di TV akhir-akhir ini.
Ujian hendaknya ditempatkan pada suatu kedudukan yang sebenarnya, kalau memang misalnya untuk daya ukur, maka Ujian tidak dijadikan menjadi patokan keluluisan secara Mutlak. Namun seandainya dijadikan sebagai parameter pendidikan maka ukuran keberhasilan hendaknya tidak dialamatkan semata-mata pada hasil ujian nasional. Hendaknya pemerintah mewujudakan standarisasi yang lebih kompleks dari sekedar angka-angka hasil ujian. Harus ada standarisasi Mutu ajar, bahan ajar, guru, alat, prasarana dan baerbagai komponen yang menujang bagi keberhasilan pendidikan Nasional. Semoga