Akhir-akhir ini pasti seantero Indonesia digoyang oleh frase-frase yang menggelitik mengenai pemerintah. Misalnya saja yang diungkapkan dengan frase “main Yoyo”, ungkapan yang keluar dari Megawati ketika mengkritik kebijakan pemerintah. Setelah sebelumnya Megawati memperkenalkan istilah “tebar pesona”, sekarang giliran Mega menganalogikan dengan main Yoyo untuk kebijakan pemerintah SBY-JK.
Sebenarnya seberapa efektifkah “frase” ungkapan atau kata dalam menarik simpati terhadap suatu figur calon presiden. Kata-kata yang dilontarkan eleh Mega akan menjadi efektif manakala Mega mengungkapkannya bukan dalam suatu “ceramah” melainkan dialog yang sarat dengan data dan juga langsung berhadapan dengan lawan politiknya. Saya membayangkan seperti debatnya Obama pada pemilihan presiden AS yang lalu. Meski saling serang, namun yang terpenting adalah bagaimana argumen-argumen ataupun ungkapan yang dilontarkan ditambahkan dengan data yang akurat, sehingga publik bisa memberikan penilaian atas kesahihan dari argumen itu.
Memang siapapun dapat membaca bahwa penurunan Harga Minyak terjadi bukan karena Prestasi pemerintah SBY. Sebab sebenarnya pemerintah SBY tidak berdaya terhadap pasar minyak dunia yang terus merosot, yang mau tidak mau harga Minyak dalam Negeri harus turun. Hal ini sama dengan tidak berdayanya SBY mankala menaikan harga Minyak, ketika Minyak dunia Meroket. Namun tidak jaminan juga jika presiden Megawati yang memerintah tidak akan melakukan hal yang serupa jika menghadapi kejadian yang sama.
Untuk itu kita harus cerdas menilai Calon Presiden yang layak untuk dipilih pada masa yang akan datang.