Januari 30, 2009
· Disimpan dalam Tidak terkategori
Akhir-akhir ini pasti seantero Indonesia digoyang oleh frase-frase yang menggelitik mengenai pemerintah. Misalnya saja yang diungkapkan dengan frase “main Yoyo”, ungkapan yang keluar dari Megawati ketika mengkritik kebijakan pemerintah. Setelah sebelumnya Megawati memperkenalkan istilah “tebar pesona”, sekarang giliran Mega menganalogikan dengan main Yoyo untuk kebijakan pemerintah SBY-JK.
Sebenarnya seberapa efektifkah “frase” ungkapan atau kata dalam menarik simpati terhadap suatu figur calon presiden. Kata-kata yang dilontarkan eleh Mega akan menjadi efektif manakala Mega mengungkapkannya bukan dalam suatu “ceramah” melainkan dialog yang sarat dengan data dan juga langsung berhadapan dengan lawan politiknya. Saya membayangkan seperti debatnya Obama pada pemilihan presiden AS yang lalu. Meski saling serang, namun yang terpenting adalah bagaimana argumen-argumen ataupun ungkapan yang dilontarkan ditambahkan dengan data yang akurat, sehingga publik bisa memberikan penilaian atas kesahihan dari argumen itu.
Memang siapapun dapat membaca bahwa penurunan Harga Minyak terjadi bukan karena Prestasi pemerintah SBY. Sebab sebenarnya pemerintah SBY tidak berdaya terhadap pasar minyak dunia yang terus merosot, yang mau tidak mau harga Minyak dalam Negeri harus turun. Hal ini sama dengan tidak berdayanya SBY mankala menaikan harga Minyak, ketika Minyak dunia Meroket. Namun tidak jaminan juga jika presiden Megawati yang memerintah tidak akan melakukan hal yang serupa jika menghadapi kejadian yang sama.
Untuk itu kita harus cerdas menilai Calon Presiden yang layak untuk dipilih pada masa yang akan datang.
Januari 29, 2009
· Disimpan dalam Tidak terkategori
Saya memang belum membaca persis hasil dari sidang Komisi Fatwa di Padang yang memutuskan Fatwa Haram terhadap perokok yang dikhusukan buat Ibu Hamil, Anak-Anak dan Merorok ditempat umum. Sebenarnya saya tidak terlalu heran dengan fatwa ini, karena dari sebelum isu fatwa haram ini bergulir, telah terjadi dua kubu yang berbeda pendapat. NU secara mayoritas masih berpandangan bahwa merokok masih dalam kategori Makruh, sedangkan kebanyakan ulama modernis berpandangan sebaliknya.
Untuk memutuskan haram/makruhy setidaknya ilma ulama harus bersandarkan pada aspek-aspek penting, misalnya sosial, budaya maupun ekonomi. Ketika Ulama dalam MUI hanya berpijak pada aspek legalitas semata, maka akan berdampak pada pembangkangan masyarakat terhadap fatwa MUI. Misalnya seperti yang terjadi akhir-akhir ini, banyak masyarakat yang menolak terhadap fatwa ini.
Memang secara legalitas hukum “sesuatu yang membahayakanterhadap diri maupun orang lain” adalah sesuatu yang dilarang oleh agama. Namun membahayakannya rokok tidak seperti membahayakannya Khamr, yang jelas membuat orang lupa diri, tidak sadar dan lain sebagainya. Sehingga putusan ijma ulama atas bahaya rokok dengan mengambil perumpamaan terhadap khamr jelas tidak sepenuhnya diterima.
Karena putusan Haram Rokok, jelas memberikan aspek ekonomi yang sangat besar. Misalnya saja, bagaimana tenaga kerja yang bekerja disektor petani tembakau, karyawan pabrik rokok, pedagang rokok serta pengusaha percetakan pembukus rokok jelas terkena dampak ini. Belum bagaimana pemerintah terkena imbas menurunya penerimaan cukai tembakau.
Jalan yang harus ditempuh adalah tidak hanya melarang, namun juga memberikan elternatif kegiatan ekonomi bagi masyrakat yang selama ini diuntungkan dengan adanya usaha perokokan.
Januari 23, 2009
· Disimpan dalam Tidak terkategori
Meskipun tantangan yang disodorkan pemerintah telah menjadi kejadian rutin tiap tahun, namun tetap saja masih memberikan efek manakutkan bagi kalangan pendidik. Target kuantitatif dengan nilai yang terus meningkat memberikan dorongan sekaligus kekhawatiran bagi pendidik, orang tua dan siswa itu sendiri. Memang kekhawatiran akan nilai Ujian Nasional telah membawa kreatifitas tersendiri baik bagi sekolah, orangtua maupun siswa. Sekolah dengan tergopoh-gopoh memberikan pembelajaran tambahan untuk mereview materi ujian dari kelas pertama. Orang tua dengan sedikit terpaksa dan dipaksakan ramai-ramai mendaftarkan siswanya ke Bimbingan Belajar. Siswa dibuat sibuk dengan berbagai tambahan kegiatan yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan prestasi/kemampuan mencerap ilmu. Semua dibikin sibuk untuk persiapan kegiatan tahunan yang memakan dana trilunan rupiah, tak terkecuali para pengusaha bimbingan belajar yang sibuk menghitung banyaknya uang yang didapat.
Maka pendidikan yang seyogyanya memberikan rasa damai dan persaudaraan menjadi berubah berwajah pasar yang penuh dengan aroma tawar menawar dan kepentingan. Kesibukan ini mungkin akan menemukan momentum perubahan pada diri siswa manakala siswa mampu menangkap pesan ” Untuk memperoleh sesuatu harus ada kerja keras”. Namun bagi siswa yang memang memiliki daya juang “akademik” rendah, mereka akan pasrah saja ketika fonis ujian nasional menjatuhkan padanya dengan fonis “mengulang di tahun depan”. Mereka akan tetap menganggap enteng persoalan, toh mereka masih bisa “menjual Suara” dengan mengikuti berbagai ajang adu bakat, seperti yang terlihat di TV akhir-akhir ini.
Ujian hendaknya ditempatkan pada suatu kedudukan yang sebenarnya, kalau memang misalnya untuk daya ukur, maka Ujian tidak dijadikan menjadi patokan keluluisan secara Mutlak. Namun seandainya dijadikan sebagai parameter pendidikan maka ukuran keberhasilan hendaknya tidak dialamatkan semata-mata pada hasil ujian nasional. Hendaknya pemerintah mewujudakan standarisasi yang lebih kompleks dari sekedar angka-angka hasil ujian. Harus ada standarisasi Mutu ajar, bahan ajar, guru, alat, prasarana dan baerbagai komponen yang menujang bagi keberhasilan pendidikan Nasional. Semoga
Januari 22, 2009
· Disimpan dalam Tidak terkategori
Jutaan pasang mata di dunia tertuju pada pelantikan Presiden Amerika yang ke-44, berbagai harapan tergambar jelas pada sinar mata penonton. Harapan atas perubahan Amerika, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan harapan akan perubahan pola hubungan Amerika dengan negara lainnya. Di akui atau tidak, memang posisi Amerika teramat besar bagi perjalanan negara-negara lain di dunia. Tidak hanya karena Kekuatan ekonomi Amerika–yang saat ini sedang melemah–, namun juga kebijakan politiknya yang acapkali lebih hebat dan lebih besar ketimbang PBB.
Namun benarkah dengan dilantiknya presiden Amerika yang berasal dari Afro Amerika itu benar-benar akan membawa perubahan pada model diplomasi luar negeri Amerika–khususnya pada dunia Islam—?
Merujuk pada tidak meresponnya Obama terhadap isu Palestina yang luluh lantak oleh serangan Israel, dunia Islam menjadi pesimistis ada perbedaan dalam politik diplomasi Amerika. Bahkan masih terngiang ditelinga Bahwa Obama dengan lantangya Akan Melindungi Israel jika Israel diganggu.
Ketika merujuk pada kejadian akhir-akhir ini yang terjadi di Palestina, mestinya dunia Arab dan negara-negara yang berbasis penduduk Islam harus bersikap. Bahwa Allah tidak Akan merubah Nasib Suatu Kaum kalau Kaum itu tidak merubahnya. Dunia Islam harus berhenti untuk menggantungkan nasibnya pada PBB yang mandul, bahkan harapan atas Amerika yang akan berbuat lebih adil terhadap dunia Islam. Dunia Islamharus besatu padu untuk menghadapi ketidak adilan PBB dan Amerika. Dengan kekuatan Diplomasi dan kesatuan diantara negara-negara yang berbasis penduduk ISlam. Dengan mendirikan PBB yang baru yang lebih adil dan memadnag persamaan derajat. Gimana seytuju gak….?
Januari 23, 2008
· Disimpan dalam Agama, Tidak terkategori
Jiwa yang sejahtera menggambarkan seberapa positif seseorang
menghayati dan menjalani fungsi-fungsipsikologisnya. Peneliti psycho-
logical well-being, Ryff (1995) menyatakan, seseorang yang jiwanya
sejahtera apabila ia tidak sekadar bebas dari tekanan atau masalah
mental yang lain. Lebih dari itu, ia juga memiliki penilaian positif
terhadap dirinya dan mampu bertindak secara otonomi, serta tidak
mudah hanyut oleh pengaruh lingkungan Baca entri selengkapnya »
November 28, 2007
· Disimpan dalam Tidak terkategori
Apakah sebenarnya makna kebebasan? Apakah kesetaraan jender antara pria dan wanita harus dibatasi? Menjawab pertanyaan ini tentunya berulang pada penghayatan pribadi atas hakikat keberadaan dirinya di dunia ini. Apakah kebebasan berarti dirinya bebas dari segala aturan yang tidak berasal dari dirinya. Sehingga aturan ataupun norma yang dirinya tidak merasa membuat, ataupun paling tidak dirinya tidak berperan dalam mengambil keputusan harus dilawan atau dihancurkan. Demikian setidaknya pelajaran yang dapat dipetik dari Tuntutan sekelompok perempuan Swedia yang memperjuangkan hak bertelanjang dada dipantai dan dikolam renang. (Koran Tempo). Mereka menyebut hanya ingin punya hak yang sama dengan laki-laki, diantaranya jalan-jalan tanpa baju (penutup). Menurut situs Daily Mailis Metro, para aktivis feminism Skandinavia mengajukan pertanyaan ketika dua perempuan diminta menutup dada mereka oleh seorang penjaga pentai di kolam renang public dekat Stockholm. “Jika perempuan harus menutup bagian atasnya, tidakkah para pria juga harus begitu?” ujar salah satu aktivis kelompok itu. Bahkan saking seriusnya menuntut hak itu, mereka telah membuat jaringan Bara Bradiost (Payudara Adil).
“Kami ingin dada kami dilihat secara normal dan dideseksualisasi layaknya milik pria. Sehingga kamipun bisa bebas menanggalkan kaos saat bermain bola” tegas anggota kelompok itu. Bahkan katanya mereka mendapat dukungan yang luas, sehingga anggota jaringan Bara Bradiost memilih bebas terjun ke kolam renang public diseluruh Negara Swedia dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan bikini bawah saja. Sampai-sampai lembaga Ombudsman persamaan hak swedia dalam waktu dekat ini akan memutuskan apakah memproses tuntutan ini. Jika tuntutan terkabulkan, apakah Anda akan tamsaya ke sana menikmati kesetaraan jender dan kebebasan???!!!
November 28, 2007
· Disimpan dalam Tidak terkategori
KEGILAAN KREATIFITAS ENTERPREUNER
Kreatifitas pebisnis/enterpreuner memang kadang keluar bahkan bias jadi bertolak belakang dari pekem berfikir lurus ala rasional. Sebut misalnya ketika seorang pebisnis restoran di Taipei Taiwan, Yang memiliki konsep bertolak belakang yakni restoran bernuansa TOILET (sumber Koran Tempo lupa edisinya). Terlepas dari apakah konsep ini berhasil atau tidak dalam menggait pelanggan tapi gaya berfikir seperti inilah yang harus dimiliki oleh enterpreuner. Demikian juga para pebisnis besar seperti colonel Sanders pendiri KFC, yang keluar dari pakem kaum pensiunan dengan mendirikan usaha ayam goreng pada saat usia yang tidak muda lagi. Meski orang disekelilingnya menanyakan buat apa mendidirkan usaha toh sebentar lagi juga meninggal. Namun dengan berfikir gaya interpreuner colonel Sanders tetap menjalankan usaha itu. Hasilnya wajah tuanya telah menjadi ikon ayam goreng yang mendunia, dan hampir dijumpai di seluruh dunia. Meski tidak menrasakan profit langsung, tapi setidaknya telah memberikan warna pada dunia dan meninggalkan peninggalan yang berarti bagi keturunannya. Bukankah nabi menganjurkan “ tanamlah pohon itu walau besok mau kiamat’. Berarti kita harus terus berfikir, bertindak kreatif dalam beramal untuk kebaikan dunia meski besok kiamat, meski mungkindirinya tidak menikmatinya. Sehingga kita mampu dikenang oleh generasi sesudahnya sebagai pahlawan bukan sebagai pecundang.
November 28, 2007
· Disimpan dalam Tidak terkategori
Dalam rancangan undang-undang yang baru di Thailand, bahwa lalu lintas harus berhenti ketika diperdengarkan lagu kebangsaaan Thailand. Tujuan diperlakukannya undang-undang ini adalah untuk memperkuat patriotisme di negara itu. menurut laporan Sky News, senin lalu rencanannya lagu ini diperdengarkan dua kali sehari yaitu saat pengibaran dan penurunan bendera (koran Tempo,28/11/07)
Meski masih ada beberpa politisi yang mengkritisi RUU ini karen abisa berdampak bagi kekacauan lalu lintas, namun pemimpin junta militer Thailand masih berkuat keinginan untuk memperlakukan itu.
Andaikan di Jakarta diperlakukan seperti itu, bisa dibayangkan tanpa undang-undang yang seperti itu saja jakarta sudah macet, apalagi jika undang-undang itu diperlakukan wah makin semrawut kakayaknya.
Namun masih relevankah patriotisme dan nasionalisme yang seperti itu dalam era globalisasi saat ini. menurut saya nasionalisme tidak berbarti apa-apa ketika negara tidak bisa memberikan kesejahteraan dan ketentraman bagi rakyatnya. Sebab tujuan negara bukannya untuk memajukan kesejahteraan umum, mecerdaskan kehidupan bangsa dan ikut berperan serta dalam perdamaian dunia. Jadi menumbuhkan nasionalisme adalah dengan menumbuhkan pemberdayaan rakyatnya menuju kesejahteraan, gimana setuju nggak?
November 26, 2007
· Disimpan dalam Tidak terkategori
Sebenarnya hari ini aku lagi bingung, soalnya Bapakku yang ada di Kampung (Ja-Teng), sedang terkapar sakit. Tadi pagi aku terima telepon, isinya Bapakku minta ke rumah sakit. sebenarnya bukan masalah biaya saja yang aku lagi pikirin tapi, aku di jakarta punya gawe. Kalau aku urusin otomatis harus meninggalkan pekerjaanku sementara waktu. karen ibuku juga dalam keadaan sakit, pasca serangan stroke. sementara saudar-saudaraku kebanyakan adalah perantau jadi sama-sama punya kesibukan. bisa saja kita tinggalkan tugas tapi berapa lama? belum ada jaminan. tapi biar bagaimanapun Insya ALLAH aku tetap pulang. mungkin besok sore kali yach…doain yach biar cepat sembuh.
November 26, 2007
· Disimpan dalam Tidak terkategori
Dalam acara peringatan hari guru yang dipusatkan di RIAU, Presiden SBY mengaku bangga dapat mengenakan pakaian batik PGRI. dalam kesempatan itu juga SBY menyampaikan bahwa pemerintah telah mampu secara signifikan mengangkat derajat para guru Indonesia. Baca entri selengkapnya »