Oleh: ipaku | Juni 20, 2011

PENGUMUMAN CAP 3 JARI SKHU DAN IJAZAH

Untuk siswa kelas IX diharapkan hadir di sekolah untuk Cap 3 jari pada:
Hari/tanggal : Kamis, 23 Juni 2011
Waktu : Pkl. 08.00 – Selesai
Acara : Cap 3 jari
Tempat : Ruang Kelas Masing-masing
Catatan : Seragam sekolah lengkap, yang tidak memakai seragam tidak dilayani.

Oleh: ipaku | Juli 1, 2010

Pendidikan dalam dinamika perubahan

Kalender pendidikan 2009/2010 telah berakhir, tanda-tanda keberakhirannya dimulai dengan hiruk pikuk antara pro-kontra Ujian Nasional yang selalu berulang setiap tahunnya. Diikuti kemudian dengan kernyitan dahi adik-adik kelasnya dalam menghadapi Ulangan Kenaikan kelas, menjadi tanda yang jelas bagi berakhirnya masa pelajaran tahun 2009/2010. Semua berjalan seperti rutinitas yang dijalani dalam dunia pendidikan. Tanda-tanda perubahan arah pendidikan sepertinya masih jauh panggang dari api. memang berbagai kebijakan dilahirkan oleh pemerintah dari Peraturan pemerintah sampai peraturan menteri pendidikan nasional, yang sepertinya membawa arah pada perubahan pendidikan. Namun semangat perubahan ternyata gagal terejawantahkan dalam kenyataan di lapangan. KTSP yang seyogyanya menjadi ruh pendidikan dari balik pintu-pintu kelas, ternyata masih belum terlaksana secara penuh di sekolah. Sekolah kembali disandra oleh kebijakan Pemerintah sendiri dari mulai ujian nasional sampai kebijakan yang dilahirkan oleh pemda dengan aturan dan kebijakan yang cenderung mengkerdilkan makna desentralisasi terlebih-lebih bagi sekolah yang bersatus “negeri”. Memang betul semua bantuan pemerintah langsung mengalir ke rekening sekolah, namun dengan adanya pembatasan penggunaan anggaran yang semangatnya untuk mengawal supaya tidak diselewengkan, pada akhirnya mematikan kreatifitas Kepala sekolah dalam menghidupi kebutuhan anggaran sesuai kebutuhan rumahtangga sekolah. Hematnya menurut saya pemerintah tidak terlalu mencampuri hal-hal tekhnis, asalkan penggunaan anggarannya akuntabel dan sesuai kebutuhan.

Belum lagi permasalahan sertifikasi, yang targetnya 2010 selesai, sampai sekarang masih belum terlihat kapan hal ini selesai. Memang pemberian seritifikasi belum bisa dikatakan berhasil mengerek profesionalitas guru ke tingkat yang lebih tinggi lagi, namun sedikitnya bisa memberikan motivasi buat guru untuk meningkatkan kemampuan baik dalam bidang akademik maupun tekhnologi, dengan demikian profesionalisme guru secara signifikan bisa ditingkatkan. Ketika pemerintah dan stakeholder pendidikan sudah seiring sejalan dalam melihat kebijakan ini. Dan mampu melihat permsalahan pendidikan secara menyeluruh, maka tidak mustahil bahwa agenda pendidikan bukan hanya sekedar rutinitas tiap tahun yang selalu sarat dengan maslah yang sama namun juga bergerak pada sutau hal yang lebih baik. Dengan demikian tujuan pembukaan UUD 1945 akan tercapai. Amin

Oleh: ipaku | Januari 30, 2009

Menyelami pemilu 2009

Akhir-akhir ini pasti seantero Indonesia digoyang oleh frase-frase yang menggelitik mengenai pemerintah. Misalnya saja yang diungkapkan dengan frase “main Yoyo”, ungkapan yang keluar dari Megawati ketika mengkritik kebijakan pemerintah. Setelah sebelumnya Megawati memperkenalkan istilah “tebar pesona”, sekarang giliran Mega menganalogikan dengan main Yoyo untuk kebijakan pemerintah SBY-JK.

Sebenarnya seberapa efektifkah “frase” ungkapan atau kata dalam menarik simpati terhadap suatu figur calon presiden. Kata-kata yang dilontarkan eleh Mega akan menjadi efektif manakala Mega mengungkapkannya bukan dalam suatu “ceramah” melainkan dialog yang sarat dengan data dan juga langsung berhadapan dengan lawan politiknya. Saya membayangkan seperti debatnya Obama pada pemilihan presiden AS yang lalu. Meski saling serang, namun yang terpenting adalah bagaimana argumen-argumen ataupun ungkapan yang dilontarkan ditambahkan dengan data yang akurat, sehingga publik bisa memberikan penilaian atas kesahihan dari argumen itu.

Memang siapapun dapat membaca bahwa penurunan Harga Minyak terjadi bukan karena Prestasi pemerintah SBY. Sebab sebenarnya pemerintah SBY tidak berdaya terhadap pasar minyak dunia yang terus merosot, yang mau tidak mau harga Minyak dalam Negeri harus turun. Hal ini sama dengan tidak berdayanya SBY mankala menaikan harga Minyak, ketika Minyak dunia Meroket. Namun tidak jaminan juga jika presiden Megawati yang memerintah tidak akan melakukan hal yang serupa jika menghadapi kejadian yang sama.

Untuk itu kita harus cerdas menilai Calon Presiden yang layak untuk dipilih pada masa yang akan datang.

Oleh: ipaku | Januari 29, 2009

Fatwa Rokok dan Kepatuhan Umat Islam

Saya memang belum membaca persis hasil dari sidang Komisi Fatwa di Padang yang memutuskan Fatwa Haram terhadap perokok yang dikhusukan buat Ibu Hamil, Anak-Anak dan Merorok ditempat umum. Sebenarnya saya tidak terlalu heran dengan fatwa ini, karena dari sebelum isu fatwa haram ini bergulir, telah terjadi dua kubu yang berbeda pendapat. NU secara mayoritas masih berpandangan bahwa merokok masih dalam kategori Makruh, sedangkan kebanyakan ulama modernis berpandangan sebaliknya.

Untuk memutuskan haram/makruhy setidaknya ilma ulama harus bersandarkan pada aspek-aspek penting, misalnya sosial, budaya maupun ekonomi. Ketika Ulama dalam MUI hanya berpijak pada aspek legalitas semata, maka akan berdampak pada pembangkangan masyarakat terhadap fatwa MUI. Misalnya seperti yang terjadi akhir-akhir ini, banyak masyarakat yang menolak terhadap fatwa ini.

Memang secara legalitas hukum “sesuatu yang membahayakanterhadap diri maupun orang lain” adalah sesuatu yang dilarang oleh agama. Namun membahayakannya rokok tidak seperti membahayakannya Khamr, yang jelas membuat orang lupa diri, tidak sadar dan lain sebagainya. Sehingga putusan ijma ulama atas bahaya rokok dengan mengambil perumpamaan terhadap khamr jelas tidak sepenuhnya diterima.

Karena putusan Haram Rokok, jelas memberikan aspek ekonomi yang sangat besar. Misalnya saja, bagaimana tenaga kerja yang bekerja disektor petani tembakau, karyawan pabrik rokok, pedagang rokok serta pengusaha percetakan pembukus rokok jelas terkena dampak ini. Belum bagaimana pemerintah terkena imbas menurunya penerimaan cukai tembakau.

Jalan yang harus ditempuh adalah tidak hanya melarang, namun juga memberikan elternatif kegiatan ekonomi bagi masyrakat yang selama ini diuntungkan dengan adanya usaha perokokan.

Oleh: ipaku | Januari 23, 2009

Pendidikan dan Target Ujian Nasional 5,5

Meskipun tantangan yang disodorkan pemerintah telah menjadi kejadian rutin tiap tahun, namun tetap saja masih memberikan efek manakutkan bagi kalangan pendidik. Target kuantitatif dengan nilai yang terus meningkat memberikan dorongan sekaligus kekhawatiran bagi pendidik, orang tua dan siswa itu sendiri. Memang kekhawatiran akan nilai Ujian Nasional telah membawa kreatifitas tersendiri baik bagi sekolah, orangtua maupun siswa. Sekolah dengan tergopoh-gopoh memberikan pembelajaran tambahan untuk mereview materi ujian dari kelas pertama. Orang tua dengan sedikit terpaksa dan dipaksakan ramai-ramai mendaftarkan siswanya ke Bimbingan Belajar. Siswa dibuat sibuk dengan berbagai tambahan kegiatan yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan prestasi/kemampuan mencerap ilmu. Semua dibikin sibuk untuk persiapan kegiatan tahunan yang memakan dana trilunan rupiah, tak terkecuali para pengusaha bimbingan belajar yang sibuk menghitung banyaknya uang yang didapat.

Maka pendidikan yang seyogyanya memberikan rasa damai dan persaudaraan menjadi berubah berwajah pasar yang penuh dengan aroma tawar menawar dan kepentingan.  Kesibukan ini mungkin akan menemukan momentum perubahan pada diri siswa manakala siswa mampu menangkap pesan ” Untuk memperoleh sesuatu harus ada kerja keras”. Namun bagi siswa yang memang memiliki daya juang “akademik” rendah, mereka akan pasrah saja ketika fonis ujian nasional menjatuhkan padanya dengan fonis “mengulang di tahun depan”. Mereka akan tetap menganggap enteng persoalan, toh mereka masih bisa “menjual Suara” dengan mengikuti berbagai ajang adu bakat, seperti yang terlihat di TV akhir-akhir ini.

Ujian hendaknya ditempatkan pada suatu kedudukan yang sebenarnya, kalau memang misalnya untuk daya ukur, maka Ujian tidak dijadikan menjadi patokan keluluisan secara Mutlak. Namun seandainya dijadikan sebagai parameter pendidikan maka ukuran keberhasilan hendaknya tidak dialamatkan semata-mata pada hasil ujian nasional. Hendaknya pemerintah mewujudakan standarisasi yang lebih kompleks dari sekedar angka-angka hasil ujian. Harus ada standarisasi Mutu ajar, bahan ajar, guru, alat, prasarana dan baerbagai komponen yang menujang bagi keberhasilan pendidikan Nasional. Semoga

Jutaan pasang mata di dunia tertuju pada pelantikan Presiden Amerika yang ke-44, berbagai harapan tergambar jelas pada sinar mata penonton. Harapan atas perubahan Amerika, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan harapan akan perubahan pola hubungan Amerika dengan negara lainnya. Di akui atau tidak, memang posisi Amerika teramat besar bagi perjalanan negara-negara lain di dunia. Tidak hanya karena Kekuatan ekonomi Amerika–yang saat ini sedang melemah–, namun juga kebijakan politiknya yang acapkali lebih hebat dan lebih besar ketimbang PBB.

Namun benarkah dengan dilantiknya presiden Amerika yang berasal dari Afro Amerika itu benar-benar akan membawa perubahan pada model diplomasi luar negeri Amerika–khususnya pada dunia Islam—?

Merujuk pada tidak meresponnya Obama terhadap isu Palestina yang luluh lantak oleh serangan Israel, dunia Islam menjadi pesimistis ada perbedaan dalam politik diplomasi Amerika. Bahkan masih terngiang ditelinga Bahwa Obama dengan lantangya Akan Melindungi Israel jika Israel diganggu.

Ketika merujuk pada kejadian akhir-akhir ini yang terjadi di Palestina, mestinya dunia Arab dan negara-negara yang berbasis penduduk Islam harus bersikap. Bahwa Allah tidak Akan merubah Nasib Suatu Kaum kalau Kaum itu tidak merubahnya. Dunia Islam harus berhenti untuk menggantungkan nasibnya pada PBB yang mandul, bahkan harapan atas Amerika yang akan berbuat lebih adil terhadap dunia Islam. Dunia Islamharus besatu padu untuk menghadapi ketidak adilan PBB dan Amerika. Dengan kekuatan Diplomasi dan kesatuan diantara negara-negara yang berbasis penduduk ISlam. Dengan mendirikan PBB yang baru yang lebih adil dan memadnag persamaan derajat. Gimana seytuju gak….?

Oleh: ipaku | Januari 23, 2008

Cara Berbahagia

Jiwa yang sejahtera menggambarkan seberapa positif seseorang
menghayati dan menjalani fungsi-fungsipsikologisnya. Peneliti psycho-
logical well-being, Ryff (1995) menyatakan, seseorang yang jiwanya
sejahtera apabila ia tidak sekadar bebas dari tekanan atau masalah
mental yang lain. Lebih dari itu, ia juga memiliki penilaian positif
terhadap dirinya dan mampu bertindak secara otonomi, serta tidak
mudah hanyut oleh pengaruh lingkungan Baca Lanjutannya…

Oleh: ipaku | Januari 22, 2008

Pilihan Hidup

Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang
baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya
kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab, ”
Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!” Baca Lanjutannya…

Oleh: ipaku | Januari 22, 2008

Maafkan salahku, Ibu….

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang
kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat
balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi
negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa
keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman
pribadi yang terjadi pada 2003.

Baca Lanjutannya…

Oleh: ipaku | Januari 22, 2008

Lanjutan bahagia…..

dah lama gak posting nih…maklum pikiran ini kadang masih mblep-mblep dalam menulis.

Akan saya lanjutkan obrolan mengenai bahagia.

Para filsuf dan ahli agama membagi bahagia dalam dua kelompok besar, yakni apa yang disebut “bahagia sementara” dan bahagia hakikat. Bahagia sementara ditempatkan sebagai bahagia yang bersifat lahiriah. Sedang bahagia hakikat lebih mendalam yang tersimpan dan melekat di sanubari. Bahagia tidak memiliki ujung, karena bertahan dalam kesementaraan waktu dan tempat. dimensi kebahagiaan ini akan hilang manakala telah mencapai titik jenuh. seorang yang haus ketika dalam perjalanan akan menemukan kebahagiaan ketika mendapati seteguk air, dan mulai merasakan turunnya perasaan bahagia manakala hausnya sudah hilang. Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori